Tampilkan postingan dengan label Pestisida. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pestisida. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2015

Cara Mengatasi Wereng Coklat Secara Alami


Cara Mengatasi Wereng Coklat Secara Alami
Wereng adalah sebutan umum untuk serangga penghisap cairan tumbuhan. Ukuran tubuhnya  kecil.
Terdapat beberapa jenis hama wereng, beberapa diantaranya antara lain wereng hijau dan coklat. Karena hanya bisa  hidup dengan menghisap cairan tumbuhan, wereng menjadi hama penting dalam budidaya tanaman, selain sebagai pemakan langsung, wereng juga menjadi vektor bagi penularan sejumlah penyakit tumbuhan dari kelompok virus.

Wereng memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungannya. Bahkan, suatu jenis wereng mampu menghasilkan keturunan yang tahan terhadap kondisi tertentu.

Penggunaan satu jenis varietas secara terus menerus bisa menjadi salah satu faktor penyebab ledakan hama wereng. Untuk itu, pergiliran tanaman dan varietas perlu dilakukan untuk memutus rantai hidup wereng. Selain itu, penjarangan pada jarak tanam juga mampu mengurangi serangan hama wereng.

Dalam melakukan kegiatan pertanian keseimbangan ekosistem dan rantai makanan harus terjaga. Keberadaan predator alami wereng seperti laba-laba, kumbang, kepik permukaan air, dan belalan bertanduk panjang akan mampu mengendalikan polpulasi hama wereng. Untuk itu, kita perlu menjaga tempat hidup dari para predator tersebut yang biasanya hidup dalam semak dan beberapa tanaman gulma. Jika pengendalian kultur teknis serta pengendalian secara biologi tersebut tidak mampu mengatasi serangan hama, maka kita bisa melakukan pengendalian secara mekanis yaitu dengan menggunakan perangkap lampu di malam hari.

Susan Lusiana, Penanggung Jawab Pusdiklat Pertanian Berkelanjutan Serikat Petani Indonesia (SPI) menyebutkan bahwa alternatif terakhir ketika serangan hama sudah melebihi ambang batas ekonomi adalah dengan melakukan pengendalian dengan penggunaan pestisida alami.

“Pestisida alami bersifat mengurangi serangan hama, bukan untuk membunuh hama. Oleh karenanya penggunaan pestisida alami tidak akan mematikan predator alami dari hama tersebut. Cara kerjanya adalah mengusir hama dengan bau tertentu ataupun dengan menghilangkan nafsu makan hama,” ungkap Susan.
cara pengendalian hama wereng yang sudah terbukti efektif menggunakan agensia hayati Beauveria Bassiana.

Apakah Beauveria Bassiana itu...?

Beauveria bassiana (BVR) dalah suatu jamur yang sangat berperan dalam pengendalian secara biologis hama-hama tanaman yang merugikan pada pertanaman. B. bassiana merupakan jamur parasitik yang termasuk dalam kelas Deuteromycetes. Mekanisme B. bassiana menyerang hama terjadi sbb ;

1. Masuk melalui bagian tanaman yang mengandung B. bassiana yang dimakan oleh serangga hama. Dari dalam tubuuh hama, jamur akan tumbuh dan berkembang mengeluarkan zat pengurai protein (enzim khitinase, protease dan lipase sehingga pencernaan hama hancur yang kemudian jamur akan menembus kulit hama dan membentuk miselium (benang-benang warna putih). Disamping itu jamur mengeluarkan toksin seperti beauvericin, beauverolides, asam oksalat yang berperan sebagai racun perut hama.
2. Masuk melalui kulit seragga hama dengan cara menempel kulit dan menembus masuk ke dalam. Proses selanjutnya sama dengan no. 1.

KENAPA HARUS MENGGUNAKAN BVR ?

    Efektif dan efisien terhadap hama sasaran
    Tidak mematikan musuh alami
    Selaras keseimbangan alam, mudah dan relatif murah
    Aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan
    Mendukung program pertanian berkelanjutan


TANAMAN
Padi,Cabai, Tomat, Kacang panjang, Buncis, Semangka, Kentang, Bawang Merah & Daun, Kubis, Apel, Mangga, Coklat

HAMA
Wereng (Nilaparvata sp.; Nephotettix sp.; Sogatella sp.), Penggerek batang padi ( Thryporhiza sp.;Chilo supressalis), Walang sangit (Leptocorixa accuta) (sasaran utama)
Thrips sp.; Aphis sp.; Tungau, Myzus sp.( sasaran lainnya)

Kutu daun Thrips sp. ; Tungau ( sasaran lainnya)
Thrips sp. ; Myzus persicae ( sasaran lainnya)

Plutella xylostella ( sasaran lainnya)
Aphis sp.; Thrips ( sasaran lainnya)
Thrips sp.; Myzus sp.; Kutu dompolan ( sasaran lainnya)
Penggerek Buah Coklat (PBK) ( sasaran lainnya)

MEKANISME KERJA BVR

BVR masuk melalui mulut serangga hama, kemudian tumbuh dan berkembang menghancurkan sistem organ dari dalam. BVR menempel pada kulit hama dan mengeluarkan enzim (Kitinase, Protease, Lipase) untuk menghancurkan kulit. BVR mengeluarkan racun (Beauvericin, Beauveroilides, Asam oksalat) untuk membunuh hama. Miselium tumbuh secara progresif dan muncul badan buah berwarna putih pada hama yang mati, jika hama terinfeksi tersinggung hama sehat, maka hama akan tertulari, penularan dapat melalui angin. Kematian hama berkisar + 4-8 hari setelah terinfeksi BVR.

PETUNJUK PENGGUNAAN
1. Dosis 1-2 gram/liter atau + 100 gram per 1000 m2
2. Semprotkan ke tanaman pada sore hari
3. Bisa dicampurkan dengan POC NASA atau Hormonik

PERINGATAN
1. Jangan dicampur dengan pestisida lain.
2. Simpan ditempat yang sejuk dan terlindung dari sinar matahari langsung.

Minggu, 15 Februari 2015

CORRIN NASA Agens Hayati Alami

Nama : CORRIN
Kode : CORIN
Isi : 100 gram

CORRIN adalah agens hayati alami berbasis bakteri antagonis (Corynebacterium) yang sangat efektif untuk mengendalikan penyakit - penyakit utama pada tanaman padi dan sayuran.


CORRIN Produk NASA dapat mengendalikan penyakit hawar daun bakteri (HDB) atau penyakit kresek padi (disebabkan bakteri patogen Xanthomonas oryzae) , hawar daun jingga (Bacterial Red Stripe) (BRS), Blast (Pyricularia Oryzae) & bercak daun (Cercospora).


CORRIN dapat juga untuk penyakit - penyakit layu pada sayuran  (Fusarium), akar gada pada kobis (Plasmodiophora brassicae), dan layu pada pisang (Fusarium)

Cara Penggunaan Produk NASA CORRIN :
APLIKASI
DOSIS
CARA
Benih
2 – 4 gr / liter
Perendaman
Padi
2 – 4 gr / liter
Penyemprotan
Sayuran
3 – 5 gr / liter
Penyemprotan

Keterangan
Perendaman benih selama + 15 menit. 
Penyemprotan paling baik dilakukan sore hari. 
Dilarang untuk mencampur CORRIN dengan pestisida kimia 
Sprayer dibersihkan dari sisa - sisa pestisida kimia

Sifat Produk :
Produk NASA ini aman terhadap hewan peliharaan, manusia serta lingkungan
CORRIN tidak boleh dicampur dengan pestisida kimia saat aplikasi


Keamanan Penggunaan :
  • Kontak langsung dengan kulit manusia tidak dapat menyebabkan keracunan
  • Bila terkena mata dapat menyebabkan iritasi
  • Hindarkan jangan sampai masuk mata
  • Pada waktu bekerja dengan produk ini jangan makan, minum, dan merokok
  • Pada waktu membuka wadah, memindahkan, mengencerkan dan melakukan aplikasi tidak harus memakai sarung tangan, karena bila tersentuh kulkit tidak beracun
  • Cuci tangan sebelum makan dan minum
  • Buang wadah bekas ke tempat sampah
- See more at: http://www.indonaturalplus.com/2014/05/corrin-nasa-agens-hayati-alami.html#sthash.nGNnS3kc.dpuf

Nama : CORRIN
Kode : CORIN
Isi : 100 gram
harga: Rp 50.000

CORRIN adalah agens hayati alami berbasis bakteri antagonis (Corynebacterium) yang sangat efektif untuk mengendalikan penyakit - penyakit utama pada tanaman padi dan sayuran.

CORRIN Produk NASA dapat mengendalikan penyakit hawar daun bakteri (HDB) atau penyakit kresek padi (disebabkan bakteri patogen Xanthomonas oryzae) , hawar daun jingga (Bacterial Red Stripe) (BRS), Blast (Pyricularia Oryzae) & bercak daun (Cercospora).

CORRIN dapat juga untuk penyakit - penyakit layu pada sayuran  (Fusarium), akar gada pada kobis (Plasmodiophora brassicae), dan layu pada pisang (Fusarium)


Cara Penggunaan Produk NASA CORRIN :
APLIKASI
DOSIS
CARA
Benih
2 – 4 gr / liter
Perendaman
Padi
2 – 4 gr / liter
Penyemprotan
Sayuran
3 – 5 gr / liter
Penyemprotan

Keterangan
Perendaman benih selama + 15 menit. 
Penyemprotan paling baik dilakukan sore hari. 
Dilarang untuk mencampur CORRIN dengan pestisida kimia 
Sprayer dibersihkan dari sisa - sisa pestisida kimia

Sifat Produk :
Produk NASA ini aman terhadap hewan peliharaan, manusia serta lingkungan
CORRIN tidak boleh dicampur dengan pestisida kimia saat aplikasi

Keamanan Penggunaan :
  • Kontak langsung dengan kulit manusia tidak dapat menyebabkan keracunan
  • Bila terkena mata dapat menyebabkan iritasi
  • Hindarkan jangan sampai masuk mata
  • Pada waktu bekerja dengan produk ini jangan makan, minum, dan merokok
  • Pada waktu membuka wadah, memindahkan, mengencerkan dan melakukan aplikasi tidak harus memakai sarung tangan, karena bila tersentuh kulkit tidak beracun
  • Cuci tangan sebelum makan dan minum
  • Buang wadah bekas ke tempat sampah
 

Nama : CORRIN
Kode : CORIN
Isi : 100 gram

CORRIN adalah agens hayati alami berbasis bakteri antagonis (Corynebacterium) yang sangat efektif untuk mengendalikan penyakit - penyakit utama pada tanaman padi dan sayuran.


CORRIN Produk NASA dapat mengendalikan penyakit hawar daun bakteri (HDB) atau penyakit kresek padi (disebabkan bakteri patogen Xanthomonas oryzae) , hawar daun jingga (Bacterial Red Stripe) (BRS), Blast (Pyricularia Oryzae) & bercak daun (Cercospora).


CORRIN dapat juga untuk penyakit - penyakit layu pada sayuran  (Fusarium), akar gada pada kobis (Plasmodiophora brassicae), dan layu pada pisang (Fusarium)

Cara Penggunaan Produk NASA CORRIN :
APLIKASI
DOSIS
CARA
Benih
2 – 4 gr / liter
Perendaman
Padi
2 – 4 gr / liter
Penyemprotan
Sayuran
3 – 5 gr / liter
Penyemprotan

Keterangan
Perendaman benih selama + 15 menit. 
Penyemprotan paling baik dilakukan sore hari. 
Dilarang untuk mencampur CORRIN dengan pestisida kimia 
Sprayer dibersihkan dari sisa - sisa pestisida kimia

Sifat Produk :
Produk NASA ini aman terhadap hewan peliharaan, manusia serta lingkungan
CORRIN tidak boleh dicampur dengan pestisida kimia saat aplikasi


Keamanan Penggunaan :
  • Kontak langsung dengan kulit manusia tidak dapat menyebabkan keracunan
  • Bila terkena mata dapat menyebabkan iritasi
  • Hindarkan jangan sampai masuk mata
  • Pada waktu bekerja dengan produk ini jangan makan, minum, dan merokok
  • Pada waktu membuka wadah, memindahkan, mengencerkan dan melakukan aplikasi tidak harus memakai sarung tangan, karena bila tersentuh kulkit tidak beracun
  • Cuci tangan sebelum makan dan minum
  • Buang wadah bekas ke tempat sampah
- See more at: http://www.indonaturalplus.com/2014/05/corrin-nasa-agens-hayati-alami.html#sthash.nGNnS3kc.dpuf

Kamis, 01 Mei 2014

Budidaya Ketimun dengan nasa

Budidaya Ketimun


PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA TIMUN/KETIMUN
A. Pembibitan
  1. Siapkan Natural GLIO dan campurkan dengan pupuk kandang matang, diamkan 1 minggu. 
  2. Siapkan tanah halus dan pukan dapat diganti SUPERNASA / POC NASA yang telah dicampur Natural GLIO (tanah : pukan = 7:3) dan masukkan polybag. 
  3. Rendam benih dalam larutan POC NASA dan air hangat (2cc/l) selama 30 menit. 
  4. Rendam selama 12 jam. Setiap benih yang berkecambah dipindahkan ke polibag sedalam 0,5-1 cm. 
  5. Polybag dinaungi plastik bening dan bibit disiram dua kali sehari. 
  6. Semprotkan POC NASA (2cc/l air) pada 7 hss. 
  7. Setelah berumur 12 hari atau berdaun 3-4 helai, bibit dipindahkan ke kebun.

B. Pengolahan Media Tanam
  1. Bersihkan lahan dari gulma, rumput, pohon yang tidak diperlukan. 
  2. Berikan kalsit/dolomit (pH tanah <6 : 1-2 ton/ha) 
  3. Tanah dibajak/dicangkul 30-35cm sambil membalikkan tanah dan biarkan 2 minggu. 
  4. Olah kembali tanah sambil membuat bedengan lebar 120 cm, tinggi 30-40 cm dan jarak antar bedengan 30 cm. 
  5. Tambahkan pupuk kandang 20-30 ton/ha atau 0,5 kg pupuk kandang ke setiap lubang tanam 40 x 40 x 40 cm. 
  6. Berikan pupuk NPK 100 kg/ha (1/3 dari dosis keseluruhan). 
  7. Siramkan POP SUPERNASA yang telah dicampur air secara merata di atas bedengan dengan dosis ± 1 botol/1000 m² dengan cara : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan POP SUPERNASA untuk menyiram 5-10 meter bedengan. 
  8. Pasang mulsa. Dan 1 minggu kemudian buat lubang tanam. 
  9. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dengan pukan pada setiap lubang tanam (1 kemasan + 25-50 kg pukan matang untuk 1000 m2).
C. Pemeliharaan Tanaman
  1. Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang baik. 
  2. Pasang ajir pada 5 hst ( hari setelah tanam ) untuk merambatkan tanaman. 
  3. Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3 minggu setelah tanam pada pagi atau sore hari. 
  4. Pengairan dan Penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30 menit.
  5. Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.
D. Pemupukan:


Waktu
Pupuk (kg)
TSP
Urea
KCL
Pukan
Pupuk Dasar
150
150
150
20.000
3-5 hst
100
150
100
10 hst
250
300
100
Setelah berbunga
250
250
Setelah Panen I
100
100
POC NASA +
Hormonik
(Mulai umur
2–10 minggu)
Disemprotkan ke daun :
  • Alternatif 1: 8 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn dosis 3 – 4 tutup POC NASA + 1 tutup Hormonik per tangki
  • Alternatif 2: 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 – 8 tutup POC NASA + 1 tutup Hormonik per tangki


E. Hama dan Penyakit
  1. Hama
  • Oteng-oteng atau Kutu Kuya (Aulocophora similis Oliver).Kumbang daun berukuran 1 cm dengan sayap kuning polos. Gejala : merusak dan memakan daging daun sehingga daun bolong; pada serangan berat, daun tinggal tulangnya. Pengendalian : Natural BVR atau PESTONA. 
  • Ulat Tanah (Agrotis ipsilon). Ulat ini berwarna hitam dan menyerang tanaman terutama yang masih muda. Gejala: Batang tanaman dipotong disekitar leher akar. 
  • Lalat buah (Dacus cucurbitae Coq.) Lalat dewasa berukuran 1-2 mm. Lalat menyerang mentimun muda untuk bertelur, Gejala: memakan daging buah sehingga buah abnormal dan membusuk. Pengendalian : Natural METILAT.
   2. Penyakit
  • Busuk daun (Downy mildew). Penyebab : Pseudoperonospora cubensis Berk et Curt. Menginfeksi kulit daun pada kelembaban udara tinggi, temperatur 16 – 22°C dan berembun atau berkabut. Gejala : daun berbercak kuning dan berjamur, warna daun akan menjadi coklat dan busuk. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam. 
  • Penyakit tepung (Powdery mildew ). Penyebab : Erysiphe cichoracearum. Berkembang jika tanah kering di musim kemarau dengan kelemaban tinggi. Gejala : permukaan daun dan batang muda ditutupi tepung putih, kemudian berubah menjadi kuning dan mengering. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam. 
  • Antraknose. Penyebab : cendawan Colletotrichum lagenarium Pass. Gejala: bercak-bercak coklat pada daun. Bentuk bercak agak bulat atau bersudut-sudut dan menyebabkan daun mati; gejala bercak dapat meluas ke batang, tangkai dan buah. Bila udara lembab, di tengah bercak terbentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam. 
  • Bercak daun bersudut. Penyebab : cendawan Pseudomonas lachrymans. Menyebar pada saat musim hujan. Gejala : daun berbercak kecil kuning dan bersudut; pada serangan berat seluruh daun yang berbercak berubah menjadi coklat muda kelabu, mengering dan berlubang. Pengendalian : Pemberian Natural GLIO sebelum tanam. 
  • Busuk buah. 
Penyebab : cendawan (1) Phytium aphinadermatum (Edson) Fizt.; (2) Phytopthora sp., Fusarium sp.; (3) Rhizophus sp., (4) Erwinia carotovora pv. Carotovora. Infeksi terjadi di kebun atau di tempat penyimpanan. Gejala : (1) Phytium aphinadermatum: buah busuk basah dan jika ditekan, buah pecah; (2) Phytopthora: bercak agak basah yang akan menjadi lunak dan berwarna coklat dan berkerut; (3) Rhizophus: bercak agak besah, kulit buah lunak ditumbuhi jamur, buah mudah pecah; (4) Erwinia carotovora: buah membusuk, hancur dan berbau busuk. Pengendalian: dengan menghindari luka mekanis, penanganan pasca panen yang hati-hati, penyimpanan dalam wadah bersih dengan suhu antara 5 – 7 derajat C. Dan pemberian Natural GLIO sebelum tanam.

Selasa, 01 April 2014

Cara Budidaya Cabai Rawit Dengan Nasa




PERSIAPAN  LAHAN  :
1.    Campurkan Natural GLIO  1- 2 dos ke dalam pukan 25 – 50 kg, lalu diperam 1 – 2 minggu [ pengembangbiakan jamur GLIO, sebagai campuran media semai.
2.    Komposisi media semai  : tanah, pukan di atas dan pasir  [ 1:1: 1 ]

PEMBIBITAN  ;

1.    Kebutuhan benih 10 – 11 11 sacet / ha
2.    Rendam benih dengan 2- 4 cc POC Nasa / liter air hangat selama 2 jam
3.    Tiriskan dan peram 2- 4 hari, benih yang berkecambah segera disemai
4.    Semprotkan POC Nasa 1-2 tutup / tangki pada bibit usia 7 – 14 hari setelah semai


PENGOLAHAN LAHAN DAN PEMUPUKAN DASAR  :

1.    Taburkan pukan padalahan dan dolomit 200 – 300 kg / ha, serta lakukan olah tanah
2.    Buat bedengan [ tinggi 40 cm, lebar 1 meter ] dengan drainase yang cukup
3.    Campurkan SuperNasa bersama pupuk TSP 150 kg / ha, lalu taburkan merata. kemudian taburkan pukan yang sudah dicampur GLIO  [ aplikasi 1 minggu sebelum tanam ]
 4.  Tutup bedengan dengan mulsa

PEMUPUKAN DAN PEMELIHARAAN TANAMAN

Pemupukan makro susulan [ Urea, KCL dan ZA ]
·           Usia 1 – 4 minggu  : Urea  = 10 sdm, ZA = 10 sdm, KCL = 10 sdm, Power Nutrition = 5 – 10 sdm. Aplikasi campurkan  kedalam 50 liter air, aduk hingga rata, siramkan 1 gelas [ 200 cc ] per batang, dengan interval aplikasi 1 minggu
·           Usia 5 minggu dan seterusnya  : Urea  = 10 sdm, ZA = 10 sdm, KCL = 20 sdm, Power nutrition = 10 – 20 sdm, campurkan ke dalam 50 liter air dan kocorkan 2 gelas [ 400 cc ] per batang, dengan interval 1 minggu
·            
PEMUPUKAN DENGAN POC NASA, HORMONIK DAN AERO

Usia 2 minggu dan seterusnya [ interval 1 – 2 minggu ], semprotkan POC Nasa 3 tutup + Hormonik 1 tutup, Aero 0,5 tutup kedalam tangki [ 10, 12, 15, 17 liter ]
PEREMPELAN  : sisakan 2 – 3 cabang pada usia 15 – 3 hari dan pemasangan ajir dan tali penguat pada usia 15 hari setelah tanam

FASE PANEN DAN PASCA PANEN

1.    Pemanenan
-       Panen pertama sekitar umur 60 – 75 hari
-       Panen kedua dan seterusnya 2 – 3 hari dengan jumlah panen mencapai 30 – 40 kali atau lebih tergantung ketinggian tanah dan cara budidayanya
2.    Cara panen
-       Buah dipanen tidak terlalu tua [ kemasakan 80 -90 persen ]
-       Pemanenan yang  baik setelah embun kering
-       Penyortiran dilakukan sejak dilahan
-       Simpan ditempat yang teduh
3.    Pengamatan hama dan penyakit
-       Kumpulkan dan musnahkan buah yang busuk / rusak
-       Semprotkan Pentana [ 3 – 5 tutup atau Pestona 5 – 10 tutup per tangki ] sebaiknya 5 – 10 hari sekali
-       Semprotkan BVR [ 1 sdm / tangki ] selang dengan Pestona / Pentana
-       Pasang perangkap hama terbang dengan METILAT LEM

HAMA  CABAI

a.    Kutu daun Persik [ Aphids,sp ]
Biasanya kutu daun bersembunyi di bawah daun, pijit kutu daun yang ditemukan, semprot dengan BVR atau Pestona
b.    Hama Thrips pervispinus
Gejala serangan daun mengkerut dan bercak kiorosis, karena cairan daun yang dihisap, lapisan daun keprek-perekan / tembaga, biasanya bersembunyi dibawah daun, pengamatan pada pagi hari/sore hari, semprot dengan BVR / Pestona
c.    Hama Tungau [ pholiphagotarsonemus latus ]
Serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir sepanjang tulang daun. Pengendalian dengan BVR / Pestona
d.    Lalat buah [ docus dorsalis ]
Gejala buah berisi belatung akan menjadi keropos, buah sering gugur. Lubang memungkinkan bakteri pembusuk masuk, sehingga buah busuk basah, buah kumpulkan dan musnahkan. Pasang perangkap lalat buah dengan METILAT LEM

PENYAKIT CABAI

a.    Rebah semai
Gejala  tanaman terkulai karena batang busuk, disebabkan cenawanphytium sp dan Rhizoctonia sp, pengendalian tanaman bersama tanah dibuang, mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman, jika serangan berat siram dengan GLIO [ 1 sdm per 20 liter air ]
b.    Embun bulu
Ditandai dengan adanya bercak klorosis dengan permukaan berbulu pada daun / kotil. Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai
c.    Kelompok virus
Pertumbuhan bibit terhambat, cara mengatasi bibit dicabut dan dibakar, semprot virus dengan BVR / Pestona
d.    Penyakit layu
Disebabkan jamur fussarium, plyitum dan Rhytizoctonia, tanaman layu secara tiba-tiba, mengering dan gugur daun. Tanaman dimusnahkan, sebarkan GLIO
e.    Penyakit bercak daun
Jamur menyerang pada musim hujan, daun berwarna abu-abu / putih, kadang berlubang, daun menguning sebelum waktunya dan gugur, tinggal buah dan rantingnya
f.     Penyakit busuk buah Antraknosa
Mula-mula bercak pada buah atau totol-totol pada buah yang membusuk melebar, berkembang menjadi orage, abu-abu / hitam, bagian tengah ada garis-garis melingkar berwarna hitam. Pengamatan dilakukan pada buah hijau atau merah, buah yang terserang dikumpulkan dan dimusnahkan, serangan berat sebari GLIO dibawah tanaman